Skip to main content

Responding Paper Suku Alor


Suku bangsa Alor mendiami daratan pulau Alor, Pantar dan pulau-pulau kecil di antaranya. Daerah mereka sekarang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Nama Alor mungkin diberikan oleh orang luar untuk menyebut seluruh kelompok masyarakat yang berdiam di daerah tersebut.
Mata pencaharian orang Alor pada dasarnya adalah perladangan berpindah dengan teknik tebang dan bakar. Tanaman pokoknya adalah jagung, diikuti oleh tanaman padi, ubi kayu, sorgum, dan kacang-kacangan. Selain itu mereka masih melakukan pekerjaan tambahan tradisional lain, seperti berburu, menangkap ikan, meramu hasil hutan, dan membuat barang-barang anyaman untuk dibarter. Sama seperti berbagai kegiatan hidup penting lainnya, kegiatan mata pencaharian ini juga mereka atur sesuai dengan hukum adat.
Prinsip hubungan keturunan suku Alor biasanya bersifat patrilineal. Keluarga ini disebut kukkus. Gabungan dari beberapa kukkus menjadi klen kecil yang disebut bala. Gabungan dari beberapa bala menjadi klen besar yang disebut laing. Dalam perkawinannya orang Alor menganut adat eksogami klen. Pihak laki-laki wajib membayar sejumlah belis (maskawin) secara kontan kepada pihak pemberi wanita. Belis tersebut dapat terdiri atas sejumlah uang, gong, selimut

Selain itu perkawinan dapat pula terjadi tanpa harus membayar belis secara kontan, untuk itu si suami harus mengabdi beberapa lama untuk lingkungan asal isterinya. Ada pula yang disebut perkawinan tukar gadis, dimana laki-laki yang tidak mampu membayar belis menyerahkan saudara perempuannya untuk dikawini pula oleh laki-laki pihak keluarga asal isterinya. Jalan pintas yang ditempuh seorang laki-laki untuk menghindari semua kewajiban belis tersebut biasanya dengan melarikan si gadis. Namun tetap ada sanksinya.
Pada masa sekarang orang Alor sudah banyak yang memeluk agama Islam dan Kristen. Agama Islam masuk ke Pantar dan Kalabahi pada zaman pemerintahan Sultan Baabullah dari Ternate. Religi asli orang Alor masih dianut oleh sebagian sub-suku bangsa. Mereka percaya kepada tokoh Maha Kuasa yang disebut Lahatala. Tokoh ini hanya mungkin dihubungi lewat perantaraan dewa-dewa, seperti Mou Maha-maha (dewa bumi), Fred (dewa matahari), Ul (dewa bulan). Konsep dewa tertinggi tersebut mungkin berkembang akibat pengaruh agama-agama monoteis yang datang kemudian.

Comments

Popular posts from this blog

ejurnal/ebook suku flores

http://unesdoc.unesco.org/images/0018/001855/185504ind.pdf Flores menyimpan sejumlah keunikan, mulai dari lansekap, ekologi hingga budaya tradisional yang mencoba terus bertahan dotengah arus perubahan yang kencang. Disebelah barat, keunikan itu tercermin pada caci, permainan cambuk yang menjadi hiburan bagi hamper seluruh lelaki manggarai. Belakangan hiburan ini, menjelma sebagai pertunjukan yang mengasyikan bagi wisatawan. Namun, pada zaman sekarang, alih-alih menekankan filosofi korban, dan  yang lebih sering membicarakan caci sebagai symbol sifat sportif manggarai, persaudaraan, dan bagian rumit dari budaya dan seni mereka. https://media.neliti.com/media/publications/85898-ID-none.pdf Wae rebo adalah satu-satunya desa yang mempertahankan contoh asli rumah undar beratap jerami ( mbaru niang ) diseluruh Manggarai. Semua itu telah mebuktikan, flores bagian barat tak hanya mengandalkan komodo, kadal purba raksasa yang telah mendorong perlindungan habitatnyadan penyematan...

Jurnal/Ebook Suku Mentawai

ejournal.unp.ac.id/index.php/psikologi/article/download/.../5166 Mentawai merupakan sebuah kepulauan yang terletak di provinsi Sumatra Barat. Kabupaten Mentawai sendiri, terletak sekitar 85-135 km dari pantai Sumatera Barat, dengan luas daratan kurang lebih 7000 km². Kabupaten Mentawai merupakan kabupaten kepulauan yang terletak memanjang dibagianpaling barat pulau Sumatera dan dikelilingi oleh Samudera Hindia .  Adapun suku asli yang tinggal di daerah ini, yaitu suku Mentawai. Suku Mentawai merupakan salah satu bukti keanekaragaman budaya Indonesia yang eksotik dan tak ternilai harganya. Suku Mentawai berjuang untuk hidup didalam kebudayaan tradisional mereka, dan terus melestarikan arat sablungan , arat sablungan merupakan sistem kepercayaan pada Suku Mentawai, sistem keyakinan ini memberikan penghormatan kepada langit, tanah, laut, sungai dan semua yang ada di alam. Kini Suku Mentawai dipimpin oleh Sikirei (Pemangku Kebudayaan) yang terus menolah pengaruh modern, dan mem...